Di puncak sebuah gunung berapi di Kabupaten Ende, Flores, ada tiga danau yang berdampingan, dan masing-masing memiliki warna yang berbeda. Inilah Gunung Kelimutu, yang lebih dikenal lewat danau tiga warnanya. Yang membuatnya istimewa bukan cuma warnanya yang bisa berubah-ubah, tapi juga makna ketiga danau itu bagi suku Lio yang tinggal di sekitarnya. Buat banyak orang, Kelimutu adalah alasan utama menempuh perjalanan darat panjang melintasi Flores, dan begitu kamu berdiri di pelataran pandangnya saat fajar, alasan itu langsung terasa masuk akal.
Arti nama Kelimutu
Nama Kelimutu sendiri sering diartikan dari dua kata dalam bahasa setempat, yaitu "keli" yang berarti gunung dan "mutu" yang berarti mendidih. Gabungan itu kira-kira menggambarkan "gunung yang mendidih", sebuah nama yang masuk akal untuk gunung berapi aktif dengan kawah-kawah berisi air yang warnanya terus berubah. Jadi sebelum kamu sampai pun, namanya sudah memberi petunjuk tentang apa yang menanti di atas sana.
Tiga danau, dan danau mana yang mana
Ketiga danau berada di kawah-kawah terpisah dekat puncak Kelimutu, pada ketinggian sekitar 1.639 meter. Meski sering disebut sebagai satu kesatuan "danau tiga warna", ketiganya punya nama dan letak sendiri-sendiri. Tiwu Ata Mbupu adalah danau yang paling terpisah, berada di sisi barat dan agak menyendiri dari dua danau lainnya; warnanya cenderung biru gelap. Dua danau yang tersisa justru berdampingan, hanya dipisahkan oleh satu dinding kawah yang tipis. Tiwu Nuwa Muri Koo Fai biasanya berwarna hijau toska, sementara tetangganya, Tiwu Ata Polo, lebih sering tampak merah atau kecokelatan. Perlu diingat, warna-warna ini tidak permanen, jadi anggaplah gambaran di atas sebagai referensi saja, bukan jaminan apa yang akan kamu lihat saat datang.
Kenapa warnanya bisa berubah
Perubahan warna danau Kelimutu disebabkan oleh reaksi kimia antara gas dan mineral gunung berapi dengan air di dasar kawah. Aktivitas vulkanik di bawah permukaan mengubah kandungan kimia air, dan itulah yang membuat warnanya bergeser dari waktu ke waktu, kadang dalam hitungan bulan, kadang lebih cepat. Perubahan ini tidak mengikuti jadwal yang pasti, jadi tidak ada yang benar-benar bisa menjanjikan kamu akan melihat kombinasi warna tertentu di hari tertentu. Justru ketidakpastian inilah yang membuat tiap kunjungan terasa unik, karena pemandangan yang kamu lihat hari ini boleh jadi berbeda dari yang dilihat orang sebulan sebelumnya, atau yang akan dilihat orang sebulan setelahnya.
Makna tiap danau bagi suku Lio
Bagi masyarakat Lio, ketiga danau bukan sekadar pemandangan, melainkan tempat bersemayamnya jiwa-jiwa setelah kematian. Ke danau mana sebuah jiwa pergi dipercaya ditentukan oleh bagaimana orang itu menjalani hidupnya. Tiwu Ata Mbupu dipercaya menjadi tempat jiwa para orang tua dan leluhur yang telah berumur. Tiwu Nuwa Muri Koo Fai adalah tempat jiwa orang-orang muda yang meninggal di usia belia. Sementara itu, Tiwu Ata Polo diyakini menjadi tempat berkumpulnya jiwa mereka yang semasa hidup berbuat jahat, dan dari sinilah nama "Ata Polo", yang merujuk pada roh jahat, berasal. Karena keyakinan ini begitu mengakar, perubahan warna danau pun sering dimaknai warga sebagai sebuah pertanda dari leluhur. Sampai hari ini, masyarakat setempat masih menggelar upacara adat untuk menghormati arwah yang diyakini bersemayam di danau-danau itu, jadi sebagai pengunjung, ada baiknya kamu datang dengan rasa hormat terhadap tempat yang bagi mereka bersifat sakral.
Kawasan Taman Nasional Kelimutu
Danau Kelimutu berada di dalam Taman Nasional Kelimutu, yang ditetapkan pada 1992 dengan luas sekitar 5.356 hektare. Statusnya sebagai taman nasional berarti yang kamu kunjungi bukan cuma tiga danau, tapi satu kawasan konservasi yang dijaga. Di luar danaunya, kawasan ini melindungi hutan pegunungan Flores tengah beserta tumbuhan dan satwa yang hidup di dalamnya. Sepanjang jalur menuju pelataran pandang, kamu akan melewati hutan yang sejuk dan rapat, dan kalau beruntung, mendengar suara burung-burung khas pegunungan yang oleh warga setempat kerap dikaitkan dengan cerita tentang arwah para leluhur.
Cara menuju Kelimutu
Pintu masuk utama ke Kelimutu adalah Kota Ende, yang bisa dicapai dengan pesawat dari beberapa kota di Indonesia atau lewat jalur darat dari kota-kota lain di Flores. Dari Ende, perjalanan dilanjutkan sekitar dua jam ke Desa Moni, desa kecil di kaki gunung yang menjadi lokasi menginap hampir semua pengunjung. Di Moni ada banyak homestay dan penginapan sederhana, ditambah warung-warung yang biasa buka dini hari untuk para pemburu matahari terbit. Dari Moni, perjalanan ke danau memakan waktu sekitar 30 menit berkendara sampai ke area parkir. Dari sana, kamu tinggal berjalan kaki kira-kira 30 menit menyusuri jalan setapak dan anak tangga di tengah hutan sampai ke spot foto di pelataran pandang dekat puncak.
Tips melihat sunrise di Kelimutu
Waktu terbaik di Gunung Kelimutu adalah suasana saat matahari terbit, ketika kabut perlahan tersingkap dan ketiga danau muncul satu per satu di bawah langit yang berganti warna. Supaya tidak ketinggalan momen ini, sebaiknya kamu berangkat dari Moni paling lambat sekitar pukul 04.30. Udara di ketinggian terasa dingin, jadi bawa jaket, dan siapkan senter atau lampu kepala karena sebagian perjalanan dilakukan saat hari masih gelap. Musim paling enak untuk datang adalah musim kemarau, kira-kira April sampai Oktober, saat langit cenderung lebih cerah dan peluang kabut tebal lebih kecil. Di musim hujan danau tetap bisa dikunjungi, tapi pemandangannya lebih sering tertutup awan. Jangan lupa menyiapkan tiket masuk kawasan, dan selalu ikuti batas pagar serta arahan petugas, karena tepian kawah curam dan rapuh.
Selain danau: apa lagi di sekitar Moni
Kalau kamu punya waktu lebih dari sekadar mengejar matahari terbit, kawasan sekitar Moni juga menyimpan beberapa hal yang sayang dilewatkan. Di sekitar desa ada air terjun dan sumber air panas alami, tempat warga dan pengunjung biasa bersantai setelah turun dari danau. Tak jauh dari situ, ada pula kampung-kampung penenun yang masih membuat kain ikat khas Flores dengan cara tradisional, dan membeli langsung dari penenunnya adalah salah satu cara terbaik untuk mendukung mereka. Banyak pengunjung memilih menginap satu malam di Moni: tiba pada sore hari, beristirahat, bangun dini hari untuk sunrise, lalu melanjutkan perjalanan pada siang harinya. Dengan ritme seperti ini, Kelimutu terasa cukup dinikmati tanpa harus terburu-buru.
Lihat paket Kelimutu Sunrise Tour
Kombinasi dengan destinasi lain di Flores
Buat kamu yang sedang menyusun perjalanan darat Flores, Kelimutu hampir selalu jadi salah satu titik utama. Tempat ini cocok dirangkai dengan Desa Moni dan air terjunnya, lalu dilanjutkan ke desa-desa adat lain di sepanjang jalur, seperti Desa Bena di Bajawa, sebelum atau sesudah menuju Wae Rebo dan akhirnya Labuan Bajo. Dirangkai begini, Kelimutu bukan cuma satu titik foto, melainkan bagian dari perjalanan yang memadukan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Flores dalam satu rute.
