1 kali dalam 1 tahun, di lapangan terbuka di Pulau Sumba, dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan dan melempar lembing kayu sambil memacu kudanya. Inilah Pasola, salah satu tradisi paling dikenal dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dari luar, Pasola terlihat seperti perang berkuda yang menegangkan, tapi di baliknya ada doa, rasa syukur, dan keyakinan yang sudah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat penganut Marapu.
Apa itu Pasola
Kata "pasola" berasal dari "sola" atau "hola", yang berarti tombak atau lembing kayu, lalu mendapat awalan "pa" sehingga kira-kira berarti permainan ketangkasan menggunakan lembing. Dalam pelaksanaannya, dua kelompok penunggang kuda dari kampung atau wilayah yang berbeda saling melempar lembing kayu sambil berkuda kencang di sebuah arena terbuka. Atraksi ini melibatkan puluhan hingga ratusan penunggang yang terbagi menjadi dua kubu, mewakili dua wilayah yang berbeda, dan biasanya disaksikan ribuan orang yang memadati tepi arena. Meski terlihat keras, Pasola bukan ajang permusuhan, melainkan ritual adat yang punya aturan dan makna tersendiri. Lembing yang dipakai sekarang umumnya tumpul untuk mengurangi risiko, meski benturan dan luka tetap mungkin terjadi, dan justru di sinilah letak salah satu keyakinan pentingnya.
Asal mula tradisi Pasola
Pasola adalah tradisi yang sangat tua dan diwariskan secara lisan, jauh sebelum ada catatan tertulis. Tradisi ini tumbuh dari masyarakat agraris Sumba yang hidupnya bergantung pada hasil tanam, sehingga banyak ritualnya berpusat pada kesuburan tanah dan siklus musim. Karena diwariskan dari generasi ke generasi dengan sedikit perubahan, Pasola menjadi salah satu penanda paling kuat bahwa kepercayaan Marapu masih hidup di Sumba sampai hari ini, di tengah masuknya agama-agama lain dan arus modernisasi.
Hubungan Pasola dengan nyale
Pasola tidak digelar di sembarang waktu. Tradisi ini terikat erat dengan kemunculan nyale, sejenis cacing laut yang muncul di pantai Sumba pada periode tertentu menjelang akhir musim hujan, biasanya antara Februari dan Maret. Para rato, yaitu tetua atau pemimpin adat Marapu, yang menentukan kapan Pasola digelar berdasarkan tanda-tanda alam dan kemunculan nyale ini. Rangkaian acara dimulai sejak dini hari dengan upacara menangkap nyale di tepi pantai. Banyaknya nyale yang muncul dipercaya menjadi pertanda baik tentang hasil panen yang akan datang. Baru setelah itu, sekitar pagi hari, atraksi berkuda di arena dimulai.
Makna di balik lembing dan darah
Di balik aksi saling lempar itu, Pasola sebenarnya adalah acara ritual doa untuk kesuburan tanah dan keberhasilan panen padi. Masyarakat Sumba menggelarnya sebagai ucapan syukur kepada para leluhur dan kepada Marapu atas berkah yang diberikan. Ada satu keyakinan yang membuat Pasola terasa begitu sakral: darah yang menetes ke tanah arena dipercaya menyuburkan tanah dan membawa panen yang baik. Karena itu, luka yang terjadi tidak dianggap sebagai kekalahan atau kesialan, melainkan bagian dari makna ritualnya. Pemahaman ini penting supaya kamu tidak melihat Pasola sekadar sebagai tontonan ekstrem, melainkan sebagai upacara yang dalam bagi orang yang menjalankannya.
Marapu, kepercayaan masyarakat Sumba
Pasola tidak bisa dipisahkan dari Marapu, sistem kepercayaan asli masyarakat Sumba yang memuliakan leluhur dan kekuatan alam. Bagi penganut Marapu, kehidupan sehari-hari, pertanian, sampai upacara besar seperti Pasola, semuanya terhubung dengan leluhur dan keseimbangan dengan alam. Inilah yang membuat Pasola lebih dari sekadar festival; ia adalah ekspresi dari cara masyarakat Sumba memandang dunia, di mana manusia, alam, dan leluhur tidak pernah benar-benar terpisah.
Kuda dan keahlian penunggangnya
Sumba memang dikenal sebagai pulau kuda, dan Pasola adalah panggung nyata untuk melihat hubungan erat antara orang Sumba dan kudanya. Para penunggang memacu kuda mereka, mengendalikannya dengan keseimbangan dan tali kekang, sambil melempar serta menghindari lembing yang melesat ke arah mereka. Ketangkasan seperti ini bukan sesuatu yang dipelajari dalam semalam, melainkan keahlian yang diasah sejak muda dan diwariskan dalam keluarga. Melihat mereka beraksi, kamu akan paham kenapa kuda begitu lekat dengan identitas masyarakat Sumba.
Bukan soal menang, tapi soal damai
Meski tampak seperti pertarungan, Pasola justru membawa pesan damai. Ada aturan tak tertulis bahwa segala permusuhan harus berhenti begitu ritual selesai, dan tidak boleh ada dendam yang dibawa keluar dari arena. Lewat Pasola, masyarakat dari berbagai kampung berkumpul, dan rasa kebersamaan serta solidaritas justru menguat. Jadi yang tersisa setelah arena sepi bukan luka atau permusuhan, melainkan rasa syukur bersama dan harapan untuk musim tanam yang baik.
Pasola di masa kini
Hari ini, Pasola tidak hanya menjadi ritual bagi masyarakat Sumba, tapi juga menarik perhatian wisatawan dari dalam dan luar negeri yang ingin menyaksikannya langsung. Di satu sisi, perhatian ini membantu memperkenalkan budaya Sumba ke dunia dan membawa manfaat ekonomi bagi warga. Di sisi lain, ada tantangan untuk menjaga agar Pasola tetap menjadi upacara yang sakral, bukan sekadar pertunjukan. Pemerintah daerah dan masyarakat adat berusaha menjaga keseimbangan itu, dan sebagai pengunjung, kamu pun ikut berperan dengan datang membawa sikap hormat dan mengikuti aturan yang berlaku.
Kapan dan di mana bisa melihat Pasola
Pasola digelar di dua kabupaten di bagian barat Sumba. Di Sumba Barat Daya, lokasi yang terkenal antara lain wilayah Kodi, sementara di Sumba Barat ada Lamboya, Wanokaka, dan Gaura. Karena waktunya ditentukan oleh para rato berdasarkan kemunculan nyale, jadwal pastinya berbeda tiap tahun dan biasanya baru ditetapkan menjelang pelaksanaan, di rentang Februari sampai Maret. Kalau kamu ingin menontonnya, sebaiknya pantau jadwal resmi dari dinas pariwisata setempat mendekati waktu tersebut, lalu susun perjalanan dengan sedikit kelonggaran karena tanggalnya bisa bergeser.
Tips menonton Pasola
Karena Pasola berlangsung di lapangan terbuka dan melibatkan kuda yang dipacu kencang, keselamatan jadi hal pertama yang perlu kamu perhatikan. Selalu berdiri di zona aman yang ditentukan petugas, dan jangan mendekat ke jalur lintasan kuda. Acara dimulai sangat pagi, jadi datanglah lebih awal; bawa topi, pelindung matahari, dan air karena cuaca di arena bisa sangat terik. Yang tak kalah penting, ingat bahwa ini adalah ritual sakral, bukan pertunjukan yang dibuat untuk wisatawan. Minta izin sebelum memotret dari dekat, dan ikuti arahan warga serta tetua setempat.
Lihat paket Sumba Pasola Festival Tour 3D
Merangkai Pasola dengan perjalanan Sumba
Karena Pasola hanya berlangsung pada musim tertentu, banyak pelancong menjadikannya alasan utama datang ke Sumba pada Februari atau Maret, lalu merangkainya dengan hal-hal lain yang membuat pulau ini istimewa: kampung-kampung adat dengan rumah beratap menara, kain tenun ikat Sumba yang khas, padang sabana yang luas, serta air terjun dan pantai-pantainya. Dirangkai begini, Pasola bukan cuma sebuah tontonan tahunan, melainkan pintu masuk untuk mengenal Sumba lebih dalam.
