
Patung Komodo, warisan budaya yang punya kisah 50 tahun
Patung komodo yang dijual di seluruh kawasan Taman Nasional Komodo maupun tempat oleh oleh di Labuan Bajo berawal dari satu kampung, dan satu pengukir, yang dimulai sejak tahun 1973. Di sanggar Pak Saeh, di tempat kamu berdiri sekarang, kamu sedang menjadi bagian dari tradisi itu, dan bonusnya kamu bisa membawanya pulang.
Hampir setiap patung komodo kayu yang kamu lihat di sekitar Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo berawal dari satu kampung di Pulau Komodo, dan dari satu orang yang sejak 1973 mengukir patung komodo pertama. Lima puluh tahun kemudian, kerajinan ini masih hidup di Kampung Komodo, dan sekarang dipimpin Pak Saeh, meskipun jumlah pengrajin aktif terus berkurang dari tiap generasi. Ini adalah kisah bagaimana semuanya bermula, kenapa tiap patung dibentuk dengan tangan dari kayu lokal, dan kami adalah satu-satunya operator yang membawa peserta untuk bisa ikut dan mencoba proses pembuatan patung komodo.
Kisahnya
1973 · Patung komodo pertama. Seorang peneliti bernama Ofenberg meminta Pak Haji Nuhung, warga Kampung Komodo, mengukir patung komodo yang benar-benar menyerupai aslinya. Patung itu dibawa ke Amerika, dan Haji Nuhung menjadi pelopor kerajinan yang sebelumnya belum pernah ada.
Awal 1980-an · Cinderamata resmi taman nasional komodo. Taman Nasional Komodo resmi berdiri pada 1980. Sepanjang awal 1980-an, menurut ingatan komunitas, ukiran Haji Nuhung mulai dipajang dan dititipkan di pos jaga Loh Liang, dan patung komodo dari kayu menjadi oleh-oleh yang dibawa pulang oleh pengunjung.
1987 · Mulai dikenal luas. Seiring naiknya jumlah wisatawan di akhir 1980-an, ukiran ini dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai kerajinan khas Komodo.
1990-an · Dari beberapa pengrajin hingga menjadi komunitas. Sepanjang 1990-an makin banyak anak muda kampung belajar mengukir, dan kerajinan ini menjadi mata pencaharian alternatif warga desa komodo selain menjadi nelayan. Pelatihan oleh pengrajin dari Bali pada 1996–97 membantu untuk membentuk kumpulan pengrajin menjadi kelompok, yang sekarang menjadi Kelompok Pengrajin Nuhung Gunung Ara Komodo.
Sekarang · Warisan hidup yang terancam. Pak Saeh memimpin sanggar saat ini, melanjutkan langsung garis keturunan Haji Nuhung. Tetapi pengrajin aktif makin sedikit tiap tahun, sehingga kami berkomitmen untuk mempertahankan budaya ini dengan memberikan pelatihan pembuatan patung komodo menggunakan media lain seperti resin campur kerang, dsb, termasuk juga menjalankan program yang sedang kamu saksikan dan jalankan sekarang. Karena setiap patung komodo adalah simbol lima puluh tahun hubungan satu komunitas dengan komodo, alam, dan orang-orang yang datang untuk melihatnya.

Keahlian lima puluh tahun tak bisa dipalsukan dalam tiga puluh menit — dan kami tak berpura-pura.
Cara membuatnya
Bagianmu: Inilah tahap yang menjadi bagian kamu. Dibimbing pengrajin, kamu bisa mencoba untuk mengamplas patung hingga halus dan memunculkan detail permukaan kulit patung komodo. Ketika dirasa sudah bagus, kamu bisa membawanya pulang. Pengrajin yang membentuk, kamu yang menyelesaikan. Ini adalah keahlian lima puluh tahun yang tidak mudah untuk ditiru dalam tiga puluh menit.




Orang-orang di baliknya

Pak Saeh memimpin sanggar ukir di Kampung Komodo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat. Ia melanjutkan garis keturunan Pak Haji Nuhung, yang mengukir patung komodo akurat pertama pada 1973. Pak Saeh lah yang akan memastikan kualitas setiap patung sebelum tamu menambahkan sentuhan akhirnya.

Patung yang kamu finishing menyimpan kisah lima puluh tahun.
Hanya ada di satu trip Komodo
Tidak ada tur Komodo lain yang punya ini. Di pelayaran 3D2N Komodo indahnesia dengan kapal phinisi Leticia, kunjungan ke sanggar Pak Saeh sudah termasuk dalam itinerary, pengalaman finishing langsung ikut di dalamnya, bukan dijual terpisah. Inilah bukti paling nyata dari curated, bukan termurah: pengalaman yang tidak bisa kamu bandingkan harganya, karena tidak ada yang lain menawarkannya.
Pesan pengalamannya · mulai $306