Kalau mau ketemu komodo, kebanyakan orang cuma tau satu pintu: Loh Liang, pos resmi Taman Nasional di Pulau Komodo (Pulau Rinca beda lagi namanya Loh Buaya, tapi artikel ini bahas khusus Loh Liang). Sebenarnya ada pintu lain yang sekarang makin rame dipilih pengunjung, yaitu treking langsung dari Kampung Komodo, dipandu ranger dari warga desa sendiri.
Di balik munculnya jalur trekking baru ini, ada satu nama yang justru hampir ga pernah disebut: Pak Alyas, orang asli Pulau Komodo, beliau merupakan partner Indahnesia Tour sejak awal berdiri di Labuan Bajo.

Berawal dari satu rombongan tamu pak alias yang ga mau trekking lewat Loh Liang
Ceritanya berawal dari tahun 2016, dan waktu itu Pak Alyas membawa rombongan wisatawan tamunya sendiri bukan tamu Indahnesia. Dia bawa tamu langganan lamanya dari Rusia yang pada saat itu gak mau trekking komodo melalui Loh Liang. Pak Alyas berusaha mengabulkan permintaan tamunya, dan mengajak Pak Dulah untk pergi ke Loh Liang, membeli tiket masuk langsung di kantor Taman Nasional di Loh Liang, sekaligus meminta izin untuk treking lewat Kampung Komodo. Dari satu permintaan tamu itulah awal mula terjadinya treking lewat kampung komodo.
Dukungan yang terkendala dari perangkat desa
Perjuangan pak Alyas tidak semudah itu. Pertama kali Pak Alyas minta izin dulu ke kepala desa. Dan pada saat itu kepala desa ga ngerespon dan hanya memberi arahan: cari guide-nya dari kalangan perangkat Desa Komodo sendiri, yaitu para Kepala Dusun (Dusun 01 sampai 05) dan Sekretaris Desa. Kemudian Pak Alyas mendatangi mereka satu persatu dan meminta mereka jadi guide untuk tamunya. Salah satu namanya adalah Pak Tajudin, yang waktu itu menjabat Kepala Dusun 02. (Di struktur desa, dusun ada di bawah kepala desa dan di atas ketua RT, jadi guide pertama jalur ini justru orang-orang pemerintahan desa sendiri.)

Dibangun pelan-pelan secara swadaya
Yang dulu cuma berniat untuk 1x treking saja, kemudian rute treking dibangun oleh Pak Alyas pelan-pelan secara swadaya bareng Pak Saeh, pengrajin patung komodo di desa. Mereka berdua dibantu warga yang lain yang bikin rute treking terbuka dan layak untuk dilewati, sampai akhirnya jadi jalur resmi beneran, lengkap dengan monumen komodo besar di puncak bukit, namanya Galong Ora. Monumen itu pun bikinan Pak Alyas dan Pak Saeh. Sekarang jalurnya udah rapi: ada papan peta "Komodo Village Walking Trails", dan guide-guidenya warga asli yang pakai seragam "Komodo Village Local Guide".


