Trekking Komodo Lewat Kampung: Jalur yang Dibangun Warga buat Desanya
Travel Guide

Trekking Komodo Lewat Kampung: Jalur yang Dibangun Warga buat Desanya

By Indahnesia editorial · June 14, 2026 · Updated June 15, 2026

Kalau mau ketemu komodo, kebanyakan orang cuma tau satu pintu: Loh Liang, pos resmi Taman Nasional di Pulau Komodo (Pulau Rinca beda lagi namanya Loh Buaya, tapi artikel ini bahas khusus Loh Liang). Sebenarnya ada pintu lain yang sekarang makin rame dipilih pengunjung, yaitu treking langsung dari Kampung Komodo, dipandu ranger dari warga desa sendiri.

Di balik munculnya jalur trekking baru ini, ada satu nama yang justru hampir ga pernah disebut: Pak Alyas, orang asli Pulau Komodo, beliau merupakan partner Indahnesia Tour sejak awal berdiri di Labuan Bajo.

Pak Alyas bersama keluarga di dermaga Kampung Komodo.

Berawal dari satu rombongan tamu pak alias yang ga mau trekking lewat Loh Liang

Ceritanya berawal dari tahun 2016, dan waktu itu Pak Alyas membawa rombongan wisatawan tamunya sendiri bukan tamu Indahnesia. Dia bawa tamu langganan lamanya dari Rusia yang pada saat itu gak mau trekking komodo melalui Loh Liang. Pak Alyas berusaha mengabulkan permintaan tamunya, dan mengajak Pak Dulah untk pergi ke Loh Liang, membeli tiket masuk langsung di kantor Taman Nasional di Loh Liang, sekaligus meminta izin untuk treking lewat Kampung Komodo. Dari satu permintaan tamu itulah awal mula terjadinya treking lewat kampung komodo.

Dukungan yang terkendala dari perangkat desa

Perjuangan pak Alyas tidak semudah itu. Pertama kali Pak Alyas minta izin dulu ke kepala desa. Dan pada saat itu kepala desa ga ngerespon dan hanya memberi arahan: cari guide-nya dari kalangan perangkat Desa Komodo sendiri, yaitu para Kepala Dusun (Dusun 01 sampai 05) dan Sekretaris Desa. Kemudian Pak Alyas mendatangi mereka satu persatu dan meminta mereka jadi guide untuk tamunya. Salah satu namanya adalah Pak Tajudin, yang waktu itu menjabat Kepala Dusun 02. (Di struktur desa, dusun ada di bawah kepala desa dan di atas ketua RT, jadi guide pertama jalur ini justru orang-orang pemerintahan desa sendiri.)

Kantor Kepala Desa Komodo di Pulau Komodo. Pemandu lokal Kampung Komodo membawa tongkat kayu.

Dibangun pelan-pelan secara swadaya

Yang dulu cuma berniat untuk 1x treking saja, kemudian rute treking dibangun oleh Pak Alyas pelan-pelan secara swadaya bareng Pak Saeh, pengrajin patung komodo di desa. Mereka berdua dibantu warga yang lain yang bikin rute treking terbuka dan layak untuk dilewati, sampai akhirnya jadi jalur resmi beneran, lengkap dengan monumen komodo besar di puncak bukit, namanya Galong Ora. Monumen itu pun bikinan Pak Alyas dan Pak Saeh. Sekarang jalurnya udah rapi: ada papan peta "Komodo Village Walking Trails", dan guide-guidenya warga asli yang pakai seragam "Komodo Village Local Guide".

Pemandu Komodo Village Local Guide memandu wisatawan melewati Kampung Komodo.Papan peta jalur Komodo Village Walking Trails di Kampung Komodo.

Destinations in this story

Practical questions about Komodo

When is the best time to visit Komodo?

April to June and September to November offer the calmest seas and best diving visibility. The dry season means clear skies for island hopping and reliable manta ray encounters.

How long should I plan to stay in Komodo?

3-5 days ideal — 1 day Labuan Bajo arrival, 2-3 days liveaboard or day-trip island hopping in the park, optional 1 day Wae Rebo overland.

How do I get to Komodo?

Fly to Labuan Bajo (LBJ) from Bali (1.5 hours), Jakarta, or Surabaya. Most visitors connect through Bali — it is the quickest and most scenic gateway to the park.

What are the must-do experiences in Komodo?

Three signature experiences in Komodo: • Komodo dragon trekking on Rinca Island • Snorkeling the pink-sand shores of Pink Beach • Manta ray diving at Manta Point

Where should I stay in Komodo?

Labuan Bajo town for boutique hotels with sunset views over the marina; liveaboards (1-3 nights) for serious divers; overnight stays inside the national park are not permitted. Range: Labuan Bajo hotel Rp 600K, luxury phinisi liveaboard Rp 5M+ per person per night.

What food and dishes are worth trying in Komodo?

Fresh-caught seafood is the headline — grilled snapper, sambal matah, ikan kuah asam (sour-broth fish). Try Mediterraneo or Bajo Bakery for sunset, Warung Lokal Indah for budget Indonesian. Sample local arak (palm spirit) responsibly.

More stories

Have a question?

Ask the Komodo community

Ask

Comments

Join the conversation — sign in to leave a comment.

Sign in to comment

This one's still quiet. Drop a line — your take might be exactly what someone else needed to read.