Di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, ada kampung-kampung adat yang terasa seperti melangkah ke masa lalu: deretan rumah beratap menara tinggi dari alang-alang, dan di tengahnya, kubur batu megalitik yang besar dan tua. Bukan desa replika yang dibuat untuk kunjungan wisata semata, melainkan kampung yang benar-benar dihuni, tempat tradisi dan kepercayaan Marapu yang masih hidup sampai hari ini. Buat banyak orang, kampung adat inilah wajah Sumba yang paling berkesan, jauh lebih dalam daripada sekadar pantai dan padang sabananya.
Uma, rumah adat beratap menara
Rumah adat Sumba disebut uma, dan banyak yang bertipe rumah menara, atau dalam bahasa lokal disebut Uma Mbatangu. Uma Mbatangu adalah rumah panggung dengan atap menjulang tinggi dari alang-alang, yang menjadi ciri paling khas dari kampung adat Sumba. Tingginya bervariasi, tapi di Ratenggaro, yang dikenal punya rumah tertinggi di Sumba, menaranya bisa mencapai belasan meter. Atap yang menjulang itu bukan sekadar gaya, melainkan punya makna: ia dianggap sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia roh, tempat hal-hal yang paling sakral disimpan.
Tiga bagian rumah dan maknanya
Tidak seperti rumah adat Desa Wae Rebo yang punya lima tingkatan, rumah adat Sumba dibaca dalam tiga bagian, dan masing-masing punya fungsi serta makna sendiri. Bagian bawah, yang disebut salikabunga, dipakai untuk memelihara ternak. Bagian tengah, rongu uma, adalah ruang tempat keluarga tinggal sehari-hari. Sementara bagian atas di dalam menara, toko uma, dipakai untuk menyimpan hasil panen sekaligus menjadi tempat menaruh benda-benda pemujaan. Susunan ini menggambarkan cara masyarakat Sumba memandang dunia: dari urusan duniawi di bawah, kehidupan manusia di tengah, sampai hal yang suci dan berhubungan dengan leluhur di puncak.
Lebih dari sekadar tempat tinggal
Rumah adat Sumba juga berfungsi sebagai penanda status dan sejarah sebuah keluarga. Di banyak rumah, kamu akan melihat tanduk kerbau atau rahang babi yang dipasang sebagai tanda dari upacara-upacara besar yang pernah digelar keluarga itu; makin banyak yang terpasang, makin tinggi pula gengsi dan perannya dalam adat. Di bagian menara paling atas, keluarga menyimpan benda-benda pusaka dan perlengkapan pemujaan yang dianggap sakral dan tidak boleh sembarangan disentuh. Jadi sebuah uma bukan hanya tempat berteduh, melainkan juga semacam catatan hidup tentang siapa keluarga itu dan apa saja yang sudah mereka jalani.
Kubur batu megalitikum di tengah kampung
Yang membuat kampung adat Sumba makin istimewa adalah kubur batu megalitikum yang berdiri di tengah perkampungan. Kubur ini berupa lempengan batu besar yang ditopang tiang-tiang batu, mirip altar, dan sebagian dihias ukiran. Yang menarik, tradisi menguburkan leluhur dalam kubur batu seperti ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, tapi masih dijalankan sampai sekarang. Jumlahnya pun bisa sangat banyak: di Ratenggaro tercatat sekitar 304 kubur batu, sementara di Wainyapu ada sekitar 1.400 dolmen, yaitu kubur batu berbentuk meja dari satu lempengan batu besar yang ditopang beberapa batu penyangga, salah satu konsentrasi terpadat di Sumba. Membuat kubur batu seperti ini juga bukan perkara mudah. Batu-batu besar dulu ditarik beramai-ramai dari tempat yang jauh dalam sebuah upacara yang melibatkan banyak orang dan pemotongan hewan, sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada yang meninggal. Karena itu, sebuah kubur batu sekaligus menunjukkan betapa dihormatinya orang yang dimakamkan di dalamnya. Berdiri di antara kubur-kubur tua ini, kamu akan merasakan betapa dekatnya orang Sumba dengan para leluhurnya.
Marapu, akar dari semuanya
Baik bentuk rumah maupun tradisi kubur batu di Sumba berakar pada Marapu, kepercayaan asli masyarakat Sumba. Secara sederhana, kata Marapu sering diartikan dari "ma" yang berarti Yang, dan "rapu" yang berarti jiwa yang sudah pergi, yaitu para leluhur. Bagi penganut Marapu, leluhur tidak benar-benar hilang, melainkan tetap hadir dan menjaga keturunannya. Itulah kenapa rumah, kubur, dan tata cara hidup di kampung adat semuanya dirancang dengan menghormati hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada.
Tata letak kampung yang penuh makna
Kampung adat Sumba biasanya tidak ditata sembarangan. Rumah-rumah umumnya berdiri dalam dua baris sejajar yang saling berhadapan, sebuah susunan yang sering dikaitkan dengan bentuk perahu, dengan kubur-kubur batu megalitikum berada di bagian tengah sebagai pusatnya. Halaman di tengah kampung ini bukan sekadar ruang kosong, melainkan tempat berlangsungnya upacara adat dan kehidupan bersama warga. Jadi ketika kamu berjalan di antara rumah-rumah itu, kamu sebenarnya sedang berada di ruang yang punya aturan dan makna tersendiri bagi masyarakatnya.
Kampung-kampung adat yang bisa kamu kunjungi
Ada beberapa kampung adat yang paling dikenal di Sumba. Di Sumba Barat Daya, terutama wilayah Kodi, ada Ratenggaro dan Wainyapu yang terkenal dengan rumah-rumah beratap menara paling tinggi dan kubur batu yang sangat banyak, ditambah lokasinya yang dekat pantai. Di Sumba Barat, dekat kota Waikabubak, ada Tarung dan Praijing yang lebih mudah dijangkau dan sering jadi titik awal pengunjung mengenal budaya Sumba. Masing-masing kampung punya suasana sendiri, jadi kalau waktumu cukup, mengunjungi lebih dari satu akan memberi pengalaman yang utuh.
Cara berkunjung dan adab yang perlu dijaga
Sebagian besar kampung adat berada di lokasi yang cukup terpencil dan tidak dilayani angkutan umum, jadi cara paling praktis adalah menyewa kendaraan atau ikut trip. Ratenggaro, misalnya, berjarak sekitar satu setengah sampai dua jam berkendara dari Tambolaka, dan untuk masuk ke desa ini pengunjung perlu membayar tiket masuk yang relatif murah. Karena ini kampung yang dihuni, ada adab yang perlu kamu jaga: minta izin sebelum memotret warga atau rumah tertentu, jangan menyentuh atau menaiki kubur batu, dan ikuti arahan warga atau pemandu setempat. Membeli kain tenun atau hasil kerajinan langsung dari warga juga merupakan cara yang baik untuk menghargai sekaligus mendukung ekonomi mereka.
Waktu terbaik berkunjung
Waktu paling nyaman untuk berkunjung adalah musim kemarau, sekitar April sampai Oktober, ketika jalan menuju kampung lebih mudah dilewati dan cuaca lebih bersahabat. Pagi atau sore hari biasanya paling enak, karena cahayanya lembut dan suasana kampung lebih tenang. Kalau kamu datang pada Februari atau Maret, kunjungan ke kampung adat bisa sekaligus dirangkai dengan menyaksikan Pasola, meski di periode itu Sumba juga cenderung lebih ramai pengunjung. Apa pun waktunya, sisihkan cukup waktu untuk benar-benar mengobrol dengan warga, karena justru dari cerita merekalah kampung ini terasa hidup.
Lihat paket Sumba Overland Open Trip 5D4N
Merangkai kunjungan kampung adat dengan Sumba
Kampung adat paling pas dinikmati sebagai bagian dari perjalanan Sumba yang lebih luas. Kamu bisa merangkainya dengan menyaksikan Pasola jika datang pada musimnya, berkeliling padang sabana, mengunjungi pantai-pantai berpasir putih, sampai melihat langsung kain tenun ikat Sumba yang khas. Dirangkai begini, kampung adat bukan cuma tempat berfoto dengan latar rumah menara, melainkan pintu untuk memahami cara hidup masyarakat Sumba yang sampai sekarang masih menjaga tradisinya.
